Bendung Gerak dan Bendung Tetap

Bendung Gerak dan Bendung Tetap

 BendungGerakBojonegoro

Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk meninggikan elevasi muka air dari sungai yang dibendung sehingga air bisa disadap dan dialirkan ke saluran lewat bangunan pengambilan (intake structure).

Bangunan Utama adalah bangunan air (hydraulic structure) yang terdiri dari bagian-bagian: bendung (weir structure), bangunan pengelak (diversion structure), bangunan pengambilan (intake structure), bangunan pembilas (flushing structure) dan bangunan kantong lumpur (sediment trap structure).

Jenis bendung dibagi menjadi dua yaitu :

 1. Bendung tetap (fixed weir, uncontrolled weir)

Bendung tetap adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya tidak dapat diubah, sehingga muka air di hulu bendung tidak dapat diatur sesuai yang dikehendaki.

Pada bendung tetap, elevasi muka air di hulu bendung berubah sesuai dengan debit sungai yang sedang melimpas (muka air tidak bisa diatur naik ataupun turun). Bendung tetap biasanya dibangun pada daerah hulu sungai. Pada daerah hulu sungai kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih curam dari pada di daerah hilir. Pada saat kondisi banjir, maka elevasi muka air di bendung tetap (fixed weir) yang dibangun di daerah hulu tidak meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas) karena terkurung oleh tebing-tebingya yang curam.

Gambar Bendung Tetap

2. Bendung gerak/bendung berpintu  (gated weir, barrage)

Bendung gerak adalah jenis bendung yang tinggi pembendungannya dapat diubah sesuai dengan yang dikehendaki.

Pada bendung gerak, elevasi muka air di hulu bendung dapat dikendalikan naik atau turun sesuai yang dikehendaki dengan membuka atau menutup pintu air (gate). Bendung gerak biasanya dibangun pada daerah hilir sungai atau muara. Pada daerah hilir sungai atau muara sungai kebanyakan tebing-tebing sungai relative lebih landai atau datar dari pada di daerah hilir. Pada saat kondisi banjir, maka elevasi muka air sisi hulu bendung gerak yang dibangun di daerah hilir bisa diturunkan dengan membuka pintu-pintu air (gate) sehingga air tidak meluber kemana-mana (tidak membanjiri daerah yang luas) karena air akan mengalir lewat pintu yang telah terbuka kea rah hilir (downstream).

Gambar Bendung Gerak

Penentuan lokasi bendung :

Lokasi bendung harus dipilih di tempat yang optimum dengan memperhatikan :

  • Bagian sungai yang lurus dengan bentang terpendek ( jarak antara tebing kiri-tebing kanan).
  • Terdapat alur yang stabil di dekat lokasi bangunan pengambilan (intake structure).
  • Air sungai yang akan disadap mencukupi meskipun pada saat musim kemarau.
  • Sedikit sedimen yang masuk pada saat penyadapan.
  • Dampak pembangunan bendung adalah kecil baik ke arah hulu dan hilir.
  • Stabilitas bendung bisa tercapai seiring dengan biaya yang ekonomis.
  • Mudah dalam saat pelaksanaan Operasi dan pemeliharaan.

Data-data yang dibutuhkan untuk perencanaan:

  • Peta topografi (skala 1 :  25000, 1 : 1 : 2000 dan skala 1 : 100), untuk menentukan tata letak bendung.
  • Data geologi teknik lokasi tapak bendung, untuk menentukan karakteristik pondasi bendung.
  • Data hidrologi, untuk menentukan besaran debit banjir rencana.
  • Data morfologi sungai, untuk menentukan besaran angkutan sedimen.
  • Data karakteristik sungai, untuk menentukan hubungan antara besaran debit sungai dengan elevasi muka air banjir.
  • Keadaan batas pada jaringan irigasi, untuk menentukan dimensi bendung dan bangunan intake.

Pemilihan tipe bendung

Pemilihan tipe bendung ( bendung tetap ataupun bendung gerak) didasarkan pada pengaruh air balik akibat pembendungan (back water)Jika pengaruh air balik akibat pembendungan tersebut berdampak pada daerah yang luas maka bendung gerak (bendung berpintu) merupakan pilihan yang tepat.

Jika pengaruh air balik akibat pembendungan tersebut berdampak pada daerah yang tidak terlalu luas (misal di daerah hulu ) maka bendung tetap merupakan pilihan yang tepat.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/bangunan-air/bendung-gerak-dan-bendung-tetap

Sistem Sinyal Lalulintas

Sistem Sinyal Lalulintas

 Sistem Sinyal Lalulintas 1

Fungsi lampu lalulintas adalah alat pengatur hak berjalan bagi pergerakan lalulintas (termasuk pejalan kaki) secara bergantian di pertemuan jalan. Pengaturan ditunjukkan dengan tiga aspek warna yaitu merah, kuning dan hijau. Menurut MUTCD (Manual on Uniform Traffic Control Devices), tujuan sistem sinyal lalulintas (lampu lalulintas) adalah sebagai berikut :

  1. Menciptakan pergerakan dan hak berjalan secara bergantian dan teratur sehingga dapat meningkatkan daya dukung simpang atau melayani arus lalulintas,
  2. Dapat dilaksanakan hierarki jalan yang pada umumnya jalan utama mendapatkan perlambatan (delay),
  3. Pengaturan prioritas bagi jenis kendaraan tertentu (misalnya angkutan umum) dapat dilaksanakan,
  4. Menciiptakan celah (gap) dari arus kendaraan yang padat, untuk memberikan hak berjalan bagi arus lalulintas (seperti sepeda, pejalan kaki) memasuki persimpangan iring-iringan (platoon) pada arus lalulintas yang padat,
  5. Mengurangi terjadinya kecelakaan dan keterlambatan lalulintas,
  6. Memberikan mekanisme pengaturan lalulintas yang lebih efektif dan murah dibandingkan dengan cara-cara manual,
  7. Mengurangi tenaga polisi dan menghindarkan polisi dari polusi udara, kebisingan, dan resiko kecelakaan,
  8. Memberikan rasa percaya kepada pengemudi bahwa hak berjalannya terjamin dan menumbuhkan sikap disiplin

Kesalahan perancangan dan pengoperasian lampu lalulintas berakibat sebagai berikut :

  1. Terjadinya kelambatan (delay) yang tidak perlu,
  2. Kelambatan yang tidak perlu menyebabkan dilanggarnya pengaturan lampu lalulintas oleh pengemudi,
  3. Meningkatnya kecelakaan seperti tabrakan rear-end dan tabrakan yang melibatkan kendaraan belok kanan apabila lampu panah hijau tidak ada,
  4. Kapasitas pertemuan jalan berkurang sebagai akibat dari meningkatnya rasio antara siklus hijau yang dikarenakan bertambah banyaknya fase lampu lalulintas,
  5. Kelambatan dan antrian kendaraan yang panjang merugikan pemakai jalan, berupa pemborosan energi, meningkatnya polusi udara maupun kebisingan.

Beberapa alasan mengapa digunakan lampu lalulintas

  1. Menghindarkan kemacetan simpang akibat adanya konflik arus lalulintas,
  2. Memberi kesempatan kepada kendaraan dan pejalan kaki dari jalan minor untuk memotong jalan utama,
  3. Mengurangi tingkat kecelakaan lalulintas dan tundaan lalulintas
  4. Memberikan mekanisme pengaturan lalulintas yang efektif dan murah dibandingkan dengan pengaturan manual.

Menurut HCM (Highway Capacity Manual) 1985 pengoperasian lampu lalulintas ada tiga pengaturan yaitu :

1. Pengatuan waktu yang tetap (time-preset operation or time-preset signal)

  • Waktu siklus dan fase diatur secara tetap
  • Keuntungan, tidak perlu mengganti siklus karena tiap hari volume lalulintas rata-rata sama
  • Kerugian, bila volume lalulintas pendekat besar akan berakibat tundaan lama
  • Kerugian, bila volume lalulintas pendekat lainnhya rendah akan berakibat waktu menunggu lebih lama meskipun fase pendekat lain sudah habis.

2. Pengaturan sinyal semi aktuasi (semi-actuated operation or semi-actuated signal)

  • Sesuai untuk simpang pada pertemuan jalan minor atau penyeberangan pejalan kaki dengan jalan utama,
  • Jalan utama selalu berisyarat hijau sampai alat deteksi pada jalan minor memberikan isyarat adanya kendaraan yang datang pada salah satu atau kedua sisi jalan utama tersebut,
  • Detektor dipasang pada jalan minor sehingga bila ada arus yang akan melintasi simpang, arus pada jalan utama akan dihentikan untuk memberikan kesempatan lewat,
  • Kerugiannya, bila arus lalulintas dari jalan minor tinggi maka kelancaran arus jalan utama terganggu.

3. Pengaturan sinyal aktuasi penuh (full actguated operation)

  • Semua fase lampu diatur penuh oleh detector
  • Fase berubah otomatis bergantung volume kendaraan menuju simpang
  • Pengaturan paling efektif pada jalan-jalan yang volume lalulintas hampir sama

    Definisi-definisi Pengaturan Sinyal
sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/teknik-lalulintas/sistem-sinyal-lalulintas

Pondasi Cakar Ayam

Pondasi Cakar Ayam

Pondasi sistem cakar ayam ditemukan oleh Prof. Dr. Ir. Sediyatmo pada tahun 1961. Pertama kali digunakan pada pondasi bangunan menara listrik tegangan tinggi di daerah Ancol. Pondasi sistem cakar ayam terdiri dari pelat tipis yang didukung oleh pipa-pipa (cakar) yang tertanam pada bagian bawah pelat. Hubungan antara pipa-pipa dengan pelat beton dibuat monolit. Kerjasama sistem meliputi antara pelat–cakar–tanah yang menciptakan pelat yang lebih kaku dan lebih tahan terhadap beban dan pengaruh penurunan yang tidak seragam.

Pondasi sistem cakar ayam juga banyak digunakan untuk berbagai pondasi bangunan dan perkerasan jalan raya, terdiri dari pelat tipis beton bertulang. Secara umum perkerasan cakar ayam, terdiri dari pelat tipis beton bertulang tebal 10 – 17 cm yang diperkaku oleh pipa-pipa beton berdimeter 120 cm, dengan tebal 8 cm dan panjang pipa 150 – 200 cm yang tertanam pada lapisan subgrade, dengan jarak pipa-pipa bekisar 2,0 – 2,5 meter. Di bawah pelat terdapat lapisan lean concrete setebal kurang lebih 10 cm (terbuat dari beton mutu rendah) dan lapisan sirtu tebal 30 cm.

Denah
Potongan Melintang

Sistem Cakar Ayam Modifikasi (CAM)

Sistem Cakar Ayam Modifikasi (CAM) merupakan pengembangan lebih lanjut dari sistem cakar ayam Prof. Sediyatmo. Pengembangan yang dilakukan mencakup:

  1. Perubahan bahan cakar yang semula dari bahan pipa beton digantikan dengan pipa baja dengan tebal 1,4 mm, diameter 0,60 – 0,80 m dan panjang 1,0 – 1,2 m.
  2. Pengembangan pada metode analisis, perancangan, metode pelaksanaan, dan metode evaluasi perkerasan.
  3. Aplikasi sistem CAM pada tanah dasarnya berupa tanah ekspansif (tanah dasar mudah mengalami kembang susut, sehingga merusakkan perkerasan)
Denah
Potongan Melintang

Pondasi cakar ayam digunakan pada :

  1. Pondasi menara transmisi tegangan tinggi.
  2. Pondasi bangunan gedung bertingkat, power station, kolam renang, gudang, dan hanggar.
  3. Pondasi jembatan.
  4. Perkerasan bandara (runway, taxi way, dan apron).
  5. Perkerasan jalan tol.
Untuk Menara Listrik
Untuk Tangki Air
Penerapan Cakar Ayam pada Bandara
Penerapan Cakar Ayam pada Konstruksi Jalan
Perbandingan Plat Tanpa Cakar Ayam dan dengan Cakar Ayam
Cara Pelakasanaan :
  1. Melakukan pengukuran serta pembersihan lahan seluas yang digunakan.
  2. Lakukan penggalian tanah yang akan digunakan sebagai lantai kerja setebal 30-50 cm,kemudian  pada jarak 2,5 meter dibuat lubang dengan diameter 80-120 cm sedalam  1,2 meter yang nantinya digunakan sebagai cakar.
  3. Buat bekisting pada galian tersebut.
  4. Rangkai besi tulangan sebagai perkuatan fondasi,siapkan juga campuran beton dengan ketetapan yang sudah ditentukan.
  5. Masukkan pipa baja ke dalam cakar pondasi.
  6. Rangakaikan tulangan pada galian fondasi,setelah siap tuangkan campuran beton.
  7. Tunggu selama 28 hari hingga kekuatan beton berkekuatan 100% atau maksimal.
sumber :  https://www.ilmutekniksipil.com/teknik-pondasi/pondasi-cakar-ayam

Bekisting Konvensional

Bekisting Konvensional

Formwork atau bekisting merupakan salah satu faktor penting yang harus direncanakan secara matang dalam suatu pekerjaan konstruksi beton. Menurut Stephens (1985), formwork atau bekisting adalah cetakan sementara yang digunakan untuk menahan beton selama beton dituang dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Dikarenakan berfungsi sebagai cetakan sementara, bekisting akan dilepas atau dibongkar apabila beton yang dituang telah mencapai kekuatan yang cukup.

Menurut Blake (1975), ada beberapa aspek yang harus diperhatikan pada pemakaian bekisting dalam suatu pekerjaan konstruksi beton. Aspek tersebut adalah :

  1. Aspek pertama adalah kualitas bekisting yang akan digunakan harus tepat dan layak serta sesuai dengan bentuk pekerjaan struktur yang akan dikerjakan. Permukaan bekisting yang akan digunakan harus rata sehingga hasil permukaan beton baik.
  2. Aspek kedua adalah keamanan bagi pekerja konstruksi tersebut, maka bekisting harus cukup kuat menahan beton agar beton tidak runtuh dan mendatangkan bahaya bagi pekerja sekitarnya.
  3. Aspek yang ketiga adalah biaya pemakaian bekisting yang harus direncanakan seekonomis mungkin.

Metode bekisting yang biasanya digunakan pada bangunan dengan material utama beton, adalah metode bekisting konvensional. Bahan yang digunakan pada bekisting konvensional diantaranya kayu, multiplex, papan, dan paku yang mudah didapat tetapi masa pemakaiannya lebih pendek dikarenakan penyusutan yang besar. Ini mengharuskan pembelian material berulang kali. Selain itu dalam pengerjaannya harus dipasang dan dibongkar atau dibuat pada setiap elemen struktur yang membutuhkan tenaga kerja yang kurang terampil. Sehingga pengerjaan dengan metode ini memerlukan waktu dan biaya pengerjaan yang cukup besar.

Pada awalnya bekisting yang dipakai pada pekerjaan konstruksi, biasanya terbuat dari kayu dengan kadar kelembaban antara 15%-20%. Bekisting tradisional dengan menggunakan material kayu ini dapat dipakai hampir pada semua struktur jenis bangunan, misalnya: pondasi, kolom, balok, pelat lantai, dinding, dan sebagainya.

Bekisting tradisional dengan menggunakan material kayu ini dalam proses pengerjaannya dipasang dan dibongkar pada bagian struktur yang akan dikerjakan. Pembongkaran bekisting dilakukan dengan melepas bagian-bagian bekisting satu per satu setelah beton mencapai kekuatan yang cukup. Jadi bekisting tradisional ini pada umumnya hanya dipakai untuk satu kali pekerjaan, namun jika material kayu masih memungkinan untuk dipakai maka dapat digunakan kembali untuk bekisting pada elemen struktur yang lain.

Hasil akhir permukaan beton yang diperoleh dengan menggunakan bekisting material kayu ini tidak terlalu baik, namun pemakaian bekisting ini mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi. Dikatakan tinggi, karena bekisting tradisional ini dapat dibuat dan dipakai untuk struktur bangunan dengan bentuk yang bervariasi. Sehingga walaupun dalam perkembangan selanjutnya terdapat jenis material bekisting baru yang dapat digunakan dalam pembuatan bekisting, biasanya tetap mengkombinasikan pemakaian bekisting tradisional dengan bekisting yang modern untuk pekerjaan-pekerjaan struktur yang kecil.

Dengan menggunakan bekisting metode konvensional kekurangannya adalah:

  1. Material kayu tidak awet untuk dipakai berulang-ulang kali;
  2. Waktu untuk pasang dan bongkar bekisting menjadi lebih lama;
  3. Banyak menghasilkan sampah kayu dan paku, sehingga lokasi menjadi kotor;
  4. Bentuknya tidak presisi.

Berikut ini adalah contoh bekisting konvensional

Gambar Bekisting Konvensional
Gambar Bekisting Konvensional

Karena bekisting konvensional masih memiliki beberapa kekurangan maka baca juga Jenis-Jenis Bekisting untuk mengetahui jenis-jenis bekisting lain yang lebih moderen.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/bekisting/bekisting-konvensional

Perencanaan Hutan Kota

Perencanaan Hutan Kota

Perencanaan hutan kota, memerlukan suatu pedoman hirarki perencanaan mulai perencanaan nasional yang berupa pedoman garis besar (guide line) hingga perencanaan untuk kota dengan berbagai ukuran. Kriteria perencanaan hutan kota pada berbagai ukuran dapat kita lihat pada tabel berikut (untuk lebih jelas, klik kanan tabel dibawah, lalu save image) :

Tabel Kriteria, Fungsi dan Pengelolaan dalam Perencanaan Hutan Kota

Berikut ini adalah beberapa pendekatan dalam perencanaan hutan kota :

Pendekatan regulatif

Perencanaan pengembangan yang menggunakan pendekatan regulatif ini mendasarkan pada peraturan perundangan yang ada. Di dalam pengembangan hutan kota yang dipergunakan adalah peraturan pemerintah No. 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Beberapa kriteria yang dipergunakan untuk perencanaan hutan kota antara lain adalah :

  1. Hutan kota harus dibangun di dalam suatu kota luasnya 10% dari luas kota
  2. Hutan kota harus suatu hamparan lahan yang kompak dengan luasan minimal 0,25 hektar
  3. Hutan kota dapat dibangun di lahan negara atau lahan milik yang ditunjuk sebagai hutan kota dengan penetapan oleh pejabat yang berwenang

Pendekatan kebutuhan esensial makhluk hidup yaitu oksigen

Pendekatan yang dipergunakan dalam perencanaan ini mendasarkan pada berapa oksigen yang dibutuhkan oleh makhluk hidup yaitu manusia dan hewan. Di samping itu juga beberapa kebutuhan oksigen yang dibutuhkan untuk pembakaran energi dari BBM yang dikonsumsi oleh alat transportasi di kota. Untuk ini menggunakan formula yang dikenalkan oleh Gerrarkis dalam Arifin (1997) sebagai berikut :

Lt = ((Xt + Yt + Zt) m2)/((54)(0,9375))

Dimana :

Lt            : luas hutan kota pada tahun t

Xt            : jumlah kebutuhan oksigen manusia yang menghuni suatu kota pada tahun t

Yt            : jumlah kebutuhan oksigen oleh ternak pada tahun t

Zt            : jumlah kebutuhan oksigen oleh pembakaran BBM pada seluruh kendaraan bermotor di kota pada tahun t

54           : konstanta yang menyatakan bahwa setiap m2 suatu lahan per hari mampu menghasilkan bahan kering sebanyak 54 gram

0,9375   : Nilai konstanta yang menunjukan bahwa setiap 1 gram bahan kering setara dengan produksi oksigen sebanyak 0,9375

Pendekatan dalam menetapkan prioritas pengembangan dalam suatu kawasan

Apabila kita telah memperhitungkan berapa luasan hutan kota yang harus ada dalam suatu kota, maka langkah yang harus dilakukan adalah merencanakan bagian kota mana yang harus yang harus dibangun hutan kota. Pada hakekatnya untuk menetapkan prioritas pembangunan hutan kota ini menggunakan parameter cemaran kualitas udara.

Sesuai dengan kondisi lingkungan di perkotaan yang dipergunakan indikatornya adalah cemaran panas (thermal pollution), cemaran parameter yang menentukan tingkat kesehatan udara dengan menggunakan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Seementara untuk setiap kawasan ditetapkan indeks ketidaknyamanan (discomfortability index). Untuk ini dapat di uraiakn sebangai berikut.

Pendekatan dengan identifikasi adanya pulau panas

Pencemaran yang terjadi di kota dengan adanya gas rumah kaca dan polusi panas yang dihasilkan oleh berbagai sumber cemaran seperti AC, mesin mobil, industri, dan diesel yang ada dalam kota, maka beberapa bagian wilayah diketemukan pulau panas.

Pendekatan dengan menggunakan tingkat kesehatan udara

Dalam Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No 45/1997 tentang Indeks Standar Pencemaran Udara telah ditetapkan parameter yang diperhitungkan, yaitu Sulfur Dioksida, Carbon Monoksida, Oksidan, Nitrogen Dioksida dan Debu. Kelima parameter ini diamati di setiap kawasan dalam kota selama 24 jam, kemudian dapat diperhitungkan menggunakan formula sebagai berikut.

I = ((Ia – Ib)/(Xa – Xb)) * (Xx – Xb) + Ib

Dimana :

I       : ISPU terhitung

Ia    : ISPU batas atas

Ib    : ISPU batas bawah

Xa   : Ambien batas atas

Xb   : Ambien batas bawah

Xx   : Kadar Ambien nyata hasil pengukuran (dalam ppm atai mg/m3)

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketemukan bahwa angka di atas 70 kualitas udara telah tidak sehat atau berbahaya bagi kesehatan. Pada kawasan yang nilainya di atas 70 perlu segera dibangun hutan kota.

Pendekatan Indeks ketidaknyamanan (discomfortability indeks)

Dalam setiap kawasan dilakukan pengamatan terhadap suhu dan kelembaban. Setelah data diperoleh maka dipergunakan rumus yang diperkenalkan oleh Giles (1990) sebagai berikut.

DI = Ta – 0,55 (1 – 0,01 RH) (Ta – 14,5)

Dimana :

DI    : Discomfortability index

Ta   : Rata-rata suhu udara dalam derajat celcius

RH  : Kelembaban relatif dalam dalam %

Dengan memasukkan data lapangan ke dalam rumus tersebut dapat diketemukan DI-nya. Kemudian dimasukan ke dalam klasifikasi menurut Giles (1990) sebagai berikut.

Tabel Klasifikasi Indeks Ketidaknyamanan

Berdasarkan perhitungan DI ini maka kawasan dalam kota yang DI-nya lebih besar dari 29 harus mendapat prioritas pembangunan hutan kota. Sementara yang nilai DI lebih rendah dari 29 mendapat prioritas kedua dan selanjutnya.

sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/landscape/perencanaan-hutan-kota

Air Sadah

Air Sadah

 Air Sadah

Air merupakan kebutuhan yang sangat utama bagi kehidupan manusia, oleh karena itu jika kebutuhan air belum terpenuhi baik secara kuantitas maupun kualitas, maka akan menimbulkan dampak yang besar terhadap aspek kehidupan.

Salah satu parameter dalam persyaratan kualitas air adalah jumlah kandungan unsur Ca+ dan Mg+ dalam air yang biasanya disebut dengan kesadahan air. Kesadahan air tidak berbahaya bagi kesehatan tetapi sangat merugikan karena dapat menyebabkan pemborosan dalam penggunaan sabun karena sabun tidak berbuih, membuat ketel untuk memasak air berkerak, membuat kerusakan pada alat plumbing yang merupakan air panas dan menimbukan adanya kerak pada pipa sehingga mengganggu jalannya air.

Ada beberapa istilah dalam kesadahan air, yaitu :

  1. Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan adanya garam-garam bikarbonat, seperti Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2 . Kesadahan sementara ini dapat dengan mudah dieliminir yaitu dengan dipanaskan atau dididihkan sehingga membentuk endapan CaCO3 dan MgCO3 atau  dengan pembubuhan kapur tohor.
  2. Kesadahan tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya garam-garam klorida (Cl) dan sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium. Kesadahan tersebut tidak dapat dihilangkan hanya dengan cara dipanaskan, tetapi dengan cara pertukaran ion. Cara paling mudah untuk mengetahui air yang selalu digunakan adalah air sadah atau bukan dengan menggunakan sabun. Ketika air yang  digunakan adalah air sadah, maka sabun akan sukar berbuih, kalaupun berbuih, berbuihnya sedikit. Kemudian untuk mengetahui jenis kesadahan air adalah dengan pemanasan. Jika ternyata setelah dilakukan pemanasan, sabun tetap sukar berbuih, berarti air yang anda gunakan adalah air sadah tetap. Berdasar DEPKES RI 1990 batas kesadahan air maksimum adalah 500 mg/l.

Berikut ini adalah cara mengetahui tingkat kesadahan air, metoda yang digunakan adalah titrasi kompleksometri dengan EDTA atau juga dikenal dengan nama komplekson III.

Bahan yang diperlukan untuk pecobaan ini adalah :

  1. Sampel air
  2. EBT ( Evlocrom Black T)
  3. EDTA ( Etthylene Dianine Tetra Accetate)
  4. Amoniak

Alat yang digunakan adalah :

  1. Labu Erlenmeyer
  2. Injektor
  3. Pipet ukur
  4. Gelas Ukur
  5. Sendok Penyu
  6. Tabung ukur 100 ml

Cara pelaksanaan adalah :

  1. Mengambil air 50 ml air sampel dengan gelas ukur, kemudian masukkan labu Erlenmeyer.
  2. Menambahkan 2 pucuk sendok EBT warnanya merah tua.
  3. Titrasi Amoniak 20 tetes .
  4. Titrasi dengan EDTA sampai warna merah tua berubah menjadi biru kehijauan.
  5. Mencatat volume EDTA  yang digunakan (berapa tetes) sampai warna tadi berubah menjadi biru kehijauan, setiap 20 tetes = 1 ml.

Setelah melakukan percobaan seperti diatas masukan hasilnya kerumus sebagai berikut.

Kandungan (Ca++ + Mg++) =  (1000/v ) x v EDTA x (56/100) x f x 0,1

Keterangan :

  1. v              = volume sampel air
  2. v EDTA   = Volume titrasi EDTA
  3. f               = 1,026

Klasifikasi air menurut kesadahannya adalah :

Pengaruh kesadahan pada air yaitu :

  1. Air sukar berbuih
  2. Menimbulkan kerak / karat pada ketel
sumber : https://www.ilmutekniksipil.com/teknik-lingkungan/air-sadah